UNDERSTANDING CAREER SERVICE (MEMAHAMI LAYANAN KARIR)






 LATAR BELAKANG

Perkembangan teknologi era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah berdampak kepada munculnya bidang-bidang baru dalam dunia pekerjaan. Bidang pekerjaan semakin terdiferensiasi atau terspesifikasi sehingga disamping dirasakan semakin banyak juga mempersyaratkan kemampuan yang lebih tinggi. Sementara itu, persaingan untuk memasuki dunia kerja juga semakin ketat dan kompetitif. Di sisi lain, sistem penerimaan kerja yang dulu berorientasi pada formasi kini cenderung berubah ke arah kaulifikasi. Akibatnya, apabila seseorang tidak mempersiapkan diri secara baik dan maksimal sebagai sumber daya yang handal, dikhawatirkan akan kalah dalam percaturan di dunia pekerjaan yang akhirnya akan menjadi pengangguran.

Mencermati hal di atas, agar individu dapat memperoleh jabatan atau pekerjaan yang memuaskan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, maka diperlukan perencanaan karir secara matang. Dalam konteks pendidikan upaya membantu siswa dalam merencanakan pemilihan jabatan atau pekerjaan di masa mendatang secara tepat merupakan aspek yang sangat krusial, sehingga telah menempatkan pentingnya layanan bimbingan karir bagi siswa sebagai bagian integral dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Bahkan, apabila ditinjau dari perspektif sejarah lahirnya bimbingan dan konseling tidak lepas dari upaya untuk membantu siswa-siswa mendapatkan lapangan kerja yang cocok sesudah mereka meninggalkan bangku sekolah, melalui gerakan bimbingan jabatan atau masalah karir dengan membutuhkan informasi karir secara cepat, akurat, mudah, dan inovatif sehingga memiliki orientasi karir yang mantap yang pada akhirnya dapat membuat keputusan karir (Sexton et al. dalam Whiston, 2000). Istilah “karir’ lebih kontemporer, menunjukkan dan mencakup sifat development dari pengambilan keputusan sebagai suatu proses yang berlangsung seumur hidup (Lifelong), Suherman 2016. Sedangkan menurut Cascio (2014: 379) karir dapat dilihat dari perspektif yang berbeda: From one perspective, a career is a sequence of positions occupied by a person during the course of a lifetime. This is objective career. From another perspective, a career consists of a sense of where a person is going in his or her work life.  Merujuk pada perspektif dari Cascio ini, karir ialah tahapan posisi dalam pekerjaan yang dialami seumur hidupnya. Sedangkan disisi lain karir ialah apa yang dirasakan seseorang dalam menjalani kehidupan pekerjaannya. Demikian juga serangkaian perubahan individu pada masa peralihan tersebut terjadi secara bersamaan seorang individu sejak dini harus memahami yakni perubahan fisik dan psikhis, pada aspek fisik mereka mengalami pertumbuhan pesat dan psikologis yang berkembang, mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain dalam arti mudah terpengaruh, Individu mudah berubah dan hal itu berdampak pada pola pikir mereka, baik sebagai individu, sebagai anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Dampak dari kondisi tersebut mengakibatkan berbagai permasalahan, salah satunya mengenai pandangan kebanyakan orang terhadap perencanaan studi lanjut dan pilihan karir, pada masa ini anak sering merasa bingung, cemas, takut, bimbang, minder, tidak percaya diri dan mudah terpengaruh lingkungan.

Sebagian orang membutuhkan layanan bantuan karir, Helping Profession adalah proses menolong/memberikan bantuan secara profesional berupa mendengarkan cerita tentang masalah helpee (pihak yang ditolong) sekaligus memberikan respon/tanggapan yang tepat atas apa yang diceritakan. kekhawatiran yang banyak dimiliki orang-orang di tempat kerja? Dengan beberapa pertanyaan sudahkah Anda memasukkan masalah pribadi yang lebih luas yang dapat berdampak pada pekerjaan, seperti menyeimbangkan peran pekerjaan dan keluarga? Apakah definisi Anda hanya berfokus pada pengambilan keputusan tentang perpindahan karier? Atau apakah itu mencakup membantu orang mengatasi masalah lain, misalnya beradaptasi dengan pekerjaan baru? Dan sejauh mana itu mencakup masalah terkait karier di kemudian hari serta pilihan karier awal?

A.    Konsep filosofis Layanan Karir

Menurut Edwin B. Flippo (1995:271) karier adalah a career can be defined as sequence of separate but related work activities that provides continuity, order and meaning in a person is life. Pendapat tersebut mengatakan bahwa karier merupakan serangkaian kegiatan kerja yang terpisah-pisah tetapi masih berkaitan, saling melengkapi, berkelanjutan dan memberikan makna bagi kehidupan seseorang.

Handoko (2000: 121) karir adalah seluruh pekerjaan atau jabatan yang ditangani atau dipegang selama kehidupan kerja seseorang. Suatu karir terdiri dari urutan pengalaman atau suatu rangkaian kerja yang dipegang selama kehidupan seseorang yang memberikan kesinambungan dan ketentraman sehingga menciptakan sikap dan perilaku.

Milgram (1979) menegaskan bahwa perkembangan karir merupakan suatu proses kehidupan panjang dari kristalisasi indentitas vokasional. Suatu variasi luas dari kombinasi faktor keturunan, fisik, pribadi-sosial, sosiologis, pendidikan, ekonomi, dan pengaruh-pengaruh budaya. Dalam bagian lain juga disebutkan bahwa karir adalah gaya hidup. Artinya bahwa karir adalah suatu makna utama dari ekspresi kemampuan dan minat khusus yang secara intensif disadari sebagai implikasi dari pilihan pekerjaan untuk gaya hidup di masa mendatang. Dalam diskusi tentang karir sebagai gaya hidup, isu-isu yang berlawanan dengan nilai-nilai pekerjaan yang menyenangkan sering kali muncul. Atas dasar ini karir hakekatnya adalah bagaimana memadukan antara kemampuan dengan nilai kesenangan sebagai satu kesatuan. Karir sebagai gaya hidup adalah bagian dari proses pengambilan keputusan pada semua orang, dengan maksud agar tidak menimbulkan konflik antara kesenangan dalam pekerjaan dengan pemenuhan aspirasi dan dalam merealisasikan kemampuannya.

Munandir (1996) menyatakan bahwa karir erat kaitannya dengan pekerjaan dan hal memutuskan karir bukanlah peristiwa sesaat, melainkan proses yang panjang dan merupakan bagian dari proses perkembangan individu.

Gibson dan Mitchell, (1995) menjelaskan bahwa karir adalah totalitas dari pengalaman pekerjaan/jabatan seseorang dalam sepanjang hidupnya. Dalam arti sempit karir adalah jumlah total dari pengalaman pekerjaan/jabatan seseorang dalam kategori pekerjaan umum, seperti sebagai pengajar, akunting, dokter, atau sales.

Menurut Hadiarni dan Irman (2009), hakekat karir dan pekerjaan meliputi:

1.     Unik berarti karir yang mempunyai spesifik pada masing-masing diri seseorang, tergantung dengan potensi diri, bakat, minat, dan kecendrungan terhadap karir.

2.     Dinamis yaitu karir yang memiliki sifat terus berkembang secara berkesinambungan zaman dan kemajuan yang di capai pada suatu masyarakat baik bersifat local maupun global.

3.     Terbuka, karir dikatakan terbuka karena setiap orang berhak dan tanpa ada halangan dapat memasuki sebuah karir, baik pada lembaga atau organisasi pemerintah dan swasta selama individu yang terkait memiliki persyaratanpersyaratan yang dibutuhkan oleh Lembaga yang dimaksud.

Maka dapat disimpulkan karir adalah: (1) serangkaian posisis atau jabatan yang diduduki oleh seseorang, (2) berada dalam sebuah lembaga atau organisasi. (3) adanya pekerjaan utama yang membutuhkan keahlian/skill, (4) aktualisasi diri seseorang dalam dan sepanjang hidupnya, (5) merupakan panggilan hidup bagi diri seseorang, (6) membawa ketenangan dan kepuasan bagi orang yang menggelutinya.

Sedangkan yang dikatakan kerja adalah: 1) segala bentuk aktivitas hidup manusia, 2) berkaitan dengan aktualisasi diri seseorang dalam kehidupan, 3) melalui pengorbanan jasmani dan olah pikir seseorang, 4) menghasilkan berbagai barang dan jasa tertentu dan 5) bertujuan untuk memperoleh hasil atau imbalan tertentu.

Selanjutnya yang menjadi hakikat yang mendasar pada karir yang sesungguhnya bagi diri seseorang adalah: aktualisasi diri, pilihan hidup, perjalanan hidup, panggilan jiwa hidup manusia, dan seni, Karir merupakan bagian dari perjalanan hidup professional manusia yang mendambakan berbagai kemajuan. Salah satu bentuk kemajuan yang ingin diraihnya adalah keberhasilan dalam kariernya. Oleh karena itu pengembangan karier sangat berkaitan dengan pengembangan secara keseluruhan.

Pengalaman karir orang-orang selama perjalanan hidup mereka mencerminkan kebutuhan, nilai, aspirasi, dan sikap mereka yang berubah terhadap pekerjaan. Fitur penting lainnya dari definisi karir adalah luasnya posisi yang tersirat dalam istilah 'terkait pekerjaan' (wiraswasta termasuk, misalnya, seperti kursus pendidikan yang terkait dengan pekerjaan); dan kedua, Karir individu muncul dari interaksi antara agensi individu dan pengalaman di satu sisi, dan kekuatan yang membatasi dan memungkinkan dari konteks sosial di sisi lain.

B.    Bimbingan dan konseling Karir

Secara umum Gibson dan Mitchell (1995) menjelaskan beberapa implikasi teori karir terhadap konseling karir, yaitu pentingnya konselor untuk:

1.     Memahami proses dan karakteristik perkembangan manusia termasuk kesiapannya untuk belajar dan keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu sesuai dengan tahapan perkembangannya.

2.     Memahami kebutuhan dasar manusia, termasuk kebutuhan khususnya dan hubungannya dengan perkembangan karir dan pengambilan keputusan.

3.     Dapat melakukan assesmen dan menginterpretasikan sifat-sifat individual dan karakteristiknya, serta menerapkannya dalam relasi konseling yang bervariasi.

4.     Memahami dan mampu membantu klien dalam memahami bahwa fator-fator perubahan atau faktor-faktor yang tak terduga dapat mengubah perencanaan karir.

5.     Memahami perubahan cepat yang terjadi dalam dunia kerja dan kehidupan, sehingga memerlukan pengujian secara tetap serta perlunya penggunaan teori dan riset-riset mutahir sebagai dasar pelaksanaan konseling.

Sejalan dengan peran pembimbing atau konselor di atas, maka dalam konteks bimbingan dan konseling karir di sekolah, maka program bimbingan dan konseling karir seyogyanya menekankan pada:

1.     Kemampuan memahami dan menerima diri terhadap kemampuan, bakat, minat, serta kemampuan dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan dunia kerja. Untuk kepentingan ini diperlukan pengumpalan data dan keterangan diri melalui layanan inventarisasi pribadi dengan berbagai teknik dan cara, baik melalui tes maupun nontes.

2.     Tersedianya keragaman dan keluasan informasi karir yang sejalan dengan kemampuan, bakat, dan minat anak, persyaratan-persyaratan minimal yang harus dipenuhi, tuntutan aktivitas suatu jabatan, dan nilai-nilai dari jabatan tersebut.  Keluasan informasi yang diberikan melalui layanan informasi karir terutama diperlukan untuk pemahaman terhadap dunia pekerjaan yang terus berubah dan berkembang secara cepat, sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan keadaan diri maupun tuntutan masyarakat. Infromasi jabatan yang diberikan seharusnya menyangkut informasi yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif secara utuh, dan agar betul-betul dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan karir. Untuk itu, informasi tersebut harus akurat, cermat, baru, luas, dan komprehensif dengan mempertimbangkan ketersediaannya, bebas prasangka, serta bersumber pada yang berwenang. Misalnya dari Depnaker dengan Klasifikasi Jabatan Indonesia yang telah dikeluarkannya atau berdasar Kamus Jabatan Nasional. Pemberian informasi karir tersebut harus menjadi bagian terpadu dari bimbingan atau konseling yang dilakukan menuju pengambilan keputusan karir, dan dihindari kesan mengarahkan. Dengan demikian, siswa atau klien merasa dilibatkan secara penuh, baik pikiran, perasaan, maupun dalam memberikan makna terhadap pekerjaan yang sengaja dipilihnya, sehingga dapat lebih bertanggungjawab atas keputusannya.

3.     Kemampuan anak secara dini untuk sedini mungkin merencanakan dan mempersiapkan diri dan memperjuangkannya secara sungguhsungguh dan konsisten. Setelah anak mengambil keputusan karir, maka saat itu juga sudah harus mempersiapkan diri secara matang upaya-upaya untuk mencapainya. Berkaitan dengan ini, maka pembuatan rencana kehidupan jangka pendek dan jangka panjang sangat diperlukan, terutama berkaitan dengan bagaimana memperjuangkannya dan melalui jalur mana yang harus ditempuh, serta persiapan-persiapan diri apa yang harus dikuasai.

4.     Kemampuan untuk merasa aman, puas, dan bahagia dengan pilihan dan keputusan karir yang telah ditetapkannya. Untuk itu, keputusan pilihan karir harus terus dimantapkan, dibantu dalam memperjuangkannya, dan terus dievaluasi kemajuannya. Untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan program bimbingan karir, maka beberapa program kegiatan yang perlu dilakukan sekolah adalah adalah: (1) Inventarisasi pribadi, melalui kegiatan assesmen, (2) pemahaman dunia kerja, melalui layanan informasi karir, (3) orientasi dunia kerja, melalui orientasi ke lapangan, (4) konseling dan pengambilan keputusan karir, dan (4) penempatan, dan (6) tindak lanjut. (Munandir, 1996).

Sementara itu, Gibson dan Mitchell (1995) megajukan beberapa prinsip dalam bimbingan karir yang berkaitan dengan program pemberikan kesempatan perkembangan karir menuju tercapainya putusan karir secara tepat, yaitu:

1.     Siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan suatu yang tidak bias berdasarklan putusan karirnya.

2.     Sejak awal dan seterusnya, perlu dikembangkan sikap positif terhadap pendidikan.

3.     Siswa harus diajar untuk memandang karir sebagai suatu jalan hidup dan pendidikan sebagai persiapan untuk hidup.

4.     Siswa harus dibantu untuk menghubungkan antara perkembangan sosial pribadi dengan perencanaan karir.

5.     Semua tingkatan siswa harus diberi pemahaman tentang hubungan antara pendidikan dan karir.

6.     Siswa dalam setiap jenjang pendidikannya harus mengalami orientasi karir yang sesuai dengan tingkat kesiapannya dan realistis.

7.     Siswa diberi kesempatan untuk menguji konsep, keetrampilan, dan peran untuk mengembangkan nilai yang digunakan untuk menentukan karir masa depannya.

8.     Program bimbigan karir dipusatkan di kelas, melalui koordinasi dan konsultasi dengan konselor sekolah, orang tua, sumber, dan masyarakat.

9.     Program bimbingan dan konseling karir di sekolah harus diintegrasikan dalam fungsi bimbingan dan konseling dan program pendidikan secara utuh. Secara teknis, pelaksanaan bimbingan karir dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mengarang, wawancara imajinatif dengan tokoh yang dikagumi, sampai pada penggunaan komputer.

Berkaitan dengan pemanfaatan komputer Gibson dan Mitchell (1995) maupun Milgram (1979) mencatat bahwa penggunaan komputer ternyata memberikan sumbangan yang signifikan bagi perkembangan karir individu. Sedangkan settingnya dapat dilakukan secara individual ataupun kelompok, menyesuaiakn dengan kebutuhan.

Secara khusus Gibson dan Mitchell (1995) menjelaskan bahwa dalam pengembanagn karir, yang berakhir pada penempatan, maka konselor dapat menggunakan beberapa teknik, yaitu:

1.     Kesadaran diri (self-awareness) Sejak dini seseorang harus sadar dan menghargai keunikan dirinya sebagai manusia. Pemahaman tentang bakat, minat, nilai, sifat pribadi, dsb sangat penting dalam perkembangan konsep yang berhubungan dirinya sendiri dan eksplorasi karir. Caranya dengan latihan klarifikasi, mengarang, penggunaan film, tes, dsb.

2.     Kesadaran pendidikan (educational awareness) Kesadaran hubungan antara diri sendiri, kesempatan pendidikan, dan dunia kerja sangat penting dalam perencanaan karir. Salah satu caranya dapat dengan menghadirkan alumni.

3.     Kesadaran karir (career awareness) Pada semua tingkatan pendidikan, konselor sekolah harus mampu membantu siswa untuk terus meluaskan ilmu pengetahuan atau wawasan dan kesadaran akan dunia kerja. Termasuk pengembangan pemahaman hubungan antara nilai, gaya hidup, dan karir.

4.     Eksplorasi karir (career exploration) Agar eksplorasi karir dapat berjalan ke arah yang lebih sistematis, maka diperlukan perencanaan dan analisis karir sesuai dengan minatnya. Bila dilakukan melalui studi banding, pengetesan realita, dan sebagainya.

5.     Perencanaan karir dan pembuatan keputusan (career planing and decision making). Pada akhirnya pilihan karir siswa lebih terfokus, menyempit, atau terspesialisasi, dan perencanaan karir dimaksudkan untuk menguji secara kritis keputusan yang diambilnya.

Mengingat pentingnya bimbingan dan konseling karir sebagai pemberi arah sekaligus penerang jalan hidup, maka dalam pelaksanaannya, khususnya di persekolahan, hendaknya lebih diintensifkan dan diefektifkan, sehingga mampu membantu siswa dalam:

a.     pemahaman secara tepat tentang dirinya,

b.     pengenalan terhadap keragaman dunia kerja dan persyaratannya,

c.     mempersiapkan diri secara matang dalam memasuki dunia kerja,

d.     penempatan bidang-bidang pekerjaan tertentu yang sesuai,

e.     memecahkan berbagai persoalan khusus berkaitan dengan pekerjaan dan pola-pola kehidupan yang lain, dan

f.       penghargaan yang obyektif dan sehat terhadap pekerjaan, jabatan, serta karir.

Pandangan ini memiliki implikasi penting untuk bimbingan dan konseling karir: membantu klien menjadi lebih sadar akan kemampuan, minat dan nilai kerja mereka sendiri tidak cukup untuk perencanaan karir yang efektif; mereka juga perlu dibantu untuk 'menguraikan aturan karir di tempat kerja' saat mereka mengeksplorasi peluang selama hidup mereka (Bailyn, 1989).

C.    Bimbingan dan Konseling Karir generasi Alpha.

Generasi alpha merupakan generasi yang lahir setelah tahun 2010 sampai saat ini usia paling tua generasi alpha adalah sekitar 8 tahun yakni berada pada level pendidikan sekolah menengah pertama. Generasi ini akan menjadi generasi pembangun bangsa Indonesia 20 tahun ke depan. Maka, kualitas individu dan pendidikan yang diadapatkan akan sangat membantu generasi alpha dalam mencapai kesuksesan karir di masa depan

Dampak dari kehidupan modern terhadap perkembangan generasi Alpha menurut Toledo, Albuquerque dan Magalhães (Triyono 2018) dinamika dunia akan tergantung pada generasi ini. Mereka dapat melintasi batas dengan pengetahuan yang mereka miliki dan kemampuan bahasa inggris yang mumpuni membuat mereka memiliki akses dan kemudahan untuk bepergian ke luar negeri. Generasi ini memiliki keterampilan yang unik yang tidak dimiliki pada generasi sebelumnya. Terdapat banyak tantangan yang akan dihadapi oleh generasi ini, termasuk tantangan sosial, lingkungan dan ekonomi yang menuntut generasi ini untuk memiliki kemampuan problem solving, kreativitas, pembuatan keputusan, berpikir kritis, fleksibilitas, dan managemen diri.

D.    SIMPULAN

Berdasarkan uraian dan semakin luasnya bidang pekerjaan saat ini, pelaksanaan bimbingan / konseling karir dituntut mampu merangsang tumbuh dan berkembangnya pemikiran-pemikiran di bidang pekerjaan yang sifatnya lebih kreatif, imajinatif, dan holistik, sehingga perkembangan, pola, atau pandangan karirnya tidak linier, namun lebih menyebar, terdeferensiasi, dan terspesifikasi sesuai dengan kebutuhan dan tantangan jaman.

Bimbingan dan konseling karir terus diintensifkan dan diefektifkan, sehingga mampu membantu siswa dalam:

a.     pemahaman secara tepat tentang dirinya,

b.     pengenalan terhadap keragaman dunia kerja dan persyaratannya,

c.     mempersiapkan diri secara matang dalam memasuki dunia kerja,

d.     penempatan bidang-bidang pekerjaan tertentu yang sesuai,

e.     memecahkan berbagai persoalan khusus berkaitan dengan pekerjaan dan pola-pola kehidupan yang lain, dan

f.       penghargaan yang obyektif dan sehat terhadap pekerjaan, jabatan, serta karir.

Pandangan ini memiliki implikasi penting untuk bimbingan dan konseling karir: membantu klien menjadi lebih sadar akan kemampuan, minat dan nilai kerja mereka sendiri tidak cukup untuk perencanaan karir yang efektif; mereka juga perlu dibantu untuk 'menguraikan aturan karir di tempat kerja' saat mereka mengeksplorasi peluang selama hidup mereka


DAFTAR PUSTAKA

Edwin B. Flippo. 1996. Manajemen Personalia. Erlangga: Jakarta.

Gibson, R. L. dan Mitchell, M.H. (1995), Intoduction to Counseling and Guidance, Englewood Cliffs – New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Hadiarni & Irman. 2009. Bimbingan Karir. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press.

Hariandja, Marihat Tua Efendi, 2002, “Manajemen Sumber Daya Manusia”, Grasindo, Jakarta.

Eem Munawaroh, Kusnarto Kurniawan 2018. Analisis Karakteristik Generasi Alpha Dan Implikasinya Terhadap Layanan Bimbingan Karir Di Era Disrupsi. ISBN 9786021180389 PROSIDING SEMINAR NASIONAL Strategi Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Era Disrupsi Semarang.

Munandir, (1996), Program Bimbingan Karier di Sekolah, Jakarta: PPTA – Ditjen Dikti Depdikbud.

MIlgram, Roberta M. (1991), Counseling Gifted and Talented Children, – New Jersey: Ablex Publishing Corporation

Osipow, Samuel H. (1983), Theories of Career Development, Englewood Cliffs – New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Whiston, S.C. (2000). Principles and Applications of Assessment in Counseling. United States: Brooks/Cole. T. Hani Handoko, 2000, Manajemen Personalia & Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: BPFE,

Soegiyoharto, Rinny (2007), Peran Orang Tua terhadap Karier Anak: Tidak Memaksa Anak ke Jurusan Pendidikan yang Tidak Disukainya adalah Sikap Bijaksana (http://www.bpkpenabur.or.id) 15 Januari 2007 23:04:36 GMT: Tersedia

Triyono, 2018 Asesmen Kebutuhan Anak Dan Remaja Generasi Y, Z,. Makalah Seminar Webinar Nasional

Suherman, Uman. (2008). Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Surya, (1988), Bimbingan Karir, Bandung: PPS UPI. Makalah tidak diterbitkan.

Komentar