UNDERSTANDING CAREER SERVICE (MEMAHAMI LAYANAN KARIR)
LATAR BELAKANG
Perkembangan
teknologi era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, telah berdampak kepada munculnya bidang-bidang baru
dalam dunia pekerjaan. Bidang pekerjaan semakin terdiferensiasi atau
terspesifikasi sehingga disamping dirasakan semakin banyak juga mempersyaratkan
kemampuan yang lebih tinggi. Sementara itu, persaingan untuk memasuki dunia
kerja juga semakin ketat dan kompetitif. Di sisi lain, sistem penerimaan kerja
yang dulu berorientasi pada formasi kini cenderung berubah ke arah kaulifikasi.
Akibatnya, apabila seseorang tidak mempersiapkan diri secara baik dan maksimal
sebagai sumber daya yang handal, dikhawatirkan akan kalah dalam percaturan di
dunia pekerjaan yang akhirnya akan menjadi pengangguran.
Mencermati
hal di atas, agar individu dapat memperoleh jabatan atau pekerjaan yang
memuaskan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, maka diperlukan
perencanaan karir secara matang. Dalam konteks pendidikan upaya membantu siswa
dalam merencanakan pemilihan jabatan atau pekerjaan di masa mendatang secara
tepat merupakan aspek yang sangat krusial, sehingga telah menempatkan
pentingnya layanan bimbingan karir bagi siswa sebagai bagian integral dari
layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Bahkan, apabila ditinjau dari
perspektif sejarah lahirnya bimbingan dan konseling tidak lepas dari upaya
untuk membantu siswa-siswa mendapatkan lapangan kerja yang cocok sesudah mereka
meninggalkan bangku sekolah, melalui gerakan bimbingan jabatan atau masalah karir
dengan membutuhkan informasi karir secara cepat, akurat, mudah, dan inovatif
sehingga memiliki orientasi karir yang mantap yang pada akhirnya dapat membuat
keputusan karir (Sexton et al. dalam Whiston, 2000). Istilah “karir’ lebih
kontemporer, menunjukkan dan mencakup sifat development dari pengambilan
keputusan sebagai suatu proses yang berlangsung seumur hidup (Lifelong),
Suherman 2016. Sedangkan menurut Cascio (2014: 379) karir dapat dilihat dari
perspektif yang berbeda: From one perspective, a career is a sequence of
positions occupied by a person during the course of a lifetime. This is
objective career. From another perspective, a career consists of a sense of
where a person is going in his or her work life. Merujuk pada perspektif dari Cascio ini, karir
ialah tahapan posisi dalam pekerjaan yang dialami seumur hidupnya. Sedangkan
disisi lain karir ialah apa yang dirasakan seseorang dalam menjalani kehidupan
pekerjaannya. Demikian juga serangkaian perubahan individu pada masa peralihan
tersebut terjadi secara bersamaan seorang individu sejak dini harus memahami
yakni perubahan fisik dan psikhis, pada aspek fisik mereka mengalami pertumbuhan
pesat dan psikologis yang berkembang, mereka sangat rentan terhadap pendapat
orang lain dalam arti mudah terpengaruh, Individu mudah berubah dan hal itu
berdampak pada pola pikir mereka, baik sebagai individu, sebagai anggota
keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Dampak dari kondisi tersebut
mengakibatkan berbagai permasalahan, salah satunya mengenai pandangan kebanyakan
orang terhadap perencanaan studi lanjut dan pilihan karir, pada masa ini anak
sering merasa bingung, cemas, takut, bimbang, minder, tidak percaya diri dan
mudah terpengaruh lingkungan.
Sebagian
orang membutuhkan layanan bantuan karir, Helping Profession adalah
proses menolong/memberikan bantuan secara profesional berupa mendengarkan
cerita tentang masalah helpee (pihak yang ditolong) sekaligus memberikan
respon/tanggapan yang tepat atas apa yang diceritakan. kekhawatiran yang banyak
dimiliki orang-orang di tempat kerja? Dengan beberapa pertanyaan sudahkah Anda
memasukkan masalah pribadi yang lebih luas yang dapat berdampak pada pekerjaan,
seperti menyeimbangkan peran pekerjaan dan keluarga? Apakah definisi Anda hanya
berfokus pada pengambilan keputusan tentang perpindahan karier? Atau apakah itu
mencakup membantu orang mengatasi masalah lain, misalnya beradaptasi dengan
pekerjaan baru? Dan sejauh mana itu mencakup masalah terkait karier di kemudian
hari serta pilihan karier awal?
A. Konsep
filosofis Layanan Karir
Menurut
Edwin B. Flippo (1995:271) karier adalah a career can be defined as sequence
of separate but related work activities that provides continuity, order and
meaning in a person is life. Pendapat tersebut mengatakan bahwa karier
merupakan serangkaian kegiatan kerja yang terpisah-pisah tetapi masih
berkaitan, saling melengkapi, berkelanjutan dan memberikan makna bagi kehidupan
seseorang.
Handoko
(2000: 121) karir adalah seluruh pekerjaan atau jabatan yang ditangani atau
dipegang selama kehidupan kerja seseorang. Suatu karir terdiri dari urutan
pengalaman atau suatu rangkaian kerja yang dipegang selama kehidupan seseorang
yang memberikan kesinambungan dan ketentraman sehingga menciptakan sikap dan
perilaku.
Milgram
(1979) menegaskan bahwa perkembangan karir merupakan suatu proses kehidupan
panjang dari kristalisasi indentitas vokasional. Suatu variasi luas dari
kombinasi faktor keturunan, fisik, pribadi-sosial, sosiologis, pendidikan,
ekonomi, dan pengaruh-pengaruh budaya. Dalam bagian lain juga disebutkan bahwa
karir adalah gaya hidup. Artinya bahwa karir adalah suatu makna utama dari
ekspresi kemampuan dan minat khusus yang secara intensif disadari sebagai
implikasi dari pilihan pekerjaan untuk gaya hidup di masa mendatang. Dalam
diskusi tentang karir sebagai gaya hidup, isu-isu yang berlawanan dengan
nilai-nilai pekerjaan yang menyenangkan sering kali muncul. Atas dasar ini
karir hakekatnya adalah bagaimana memadukan antara kemampuan dengan nilai
kesenangan sebagai satu kesatuan. Karir sebagai gaya hidup adalah bagian dari
proses pengambilan keputusan pada semua orang, dengan maksud agar tidak
menimbulkan konflik antara kesenangan dalam pekerjaan dengan pemenuhan aspirasi
dan dalam merealisasikan kemampuannya.
Munandir
(1996) menyatakan bahwa karir erat kaitannya dengan pekerjaan dan hal
memutuskan karir bukanlah peristiwa sesaat, melainkan proses yang panjang dan
merupakan bagian dari proses perkembangan individu.
Gibson
dan Mitchell, (1995) menjelaskan bahwa karir adalah totalitas dari pengalaman
pekerjaan/jabatan seseorang dalam sepanjang hidupnya. Dalam arti sempit karir
adalah jumlah total dari pengalaman pekerjaan/jabatan seseorang dalam kategori
pekerjaan umum, seperti sebagai pengajar, akunting, dokter, atau sales.
Menurut
Hadiarni dan Irman (2009), hakekat karir dan pekerjaan meliputi:
1. Unik
berarti karir yang mempunyai spesifik pada masing-masing diri seseorang,
tergantung dengan potensi diri, bakat, minat, dan kecendrungan terhadap karir.
2. Dinamis
yaitu karir yang memiliki sifat terus berkembang secara berkesinambungan zaman
dan kemajuan yang di capai pada suatu masyarakat baik bersifat local maupun
global.
3. Terbuka,
karir dikatakan terbuka karena setiap orang berhak dan tanpa ada halangan dapat
memasuki sebuah karir, baik pada lembaga atau organisasi pemerintah dan swasta
selama individu yang terkait memiliki persyaratanpersyaratan yang dibutuhkan
oleh Lembaga yang dimaksud.
Maka
dapat disimpulkan karir adalah: (1) serangkaian posisis atau jabatan yang
diduduki oleh seseorang, (2) berada dalam sebuah lembaga atau organisasi. (3)
adanya pekerjaan utama yang membutuhkan keahlian/skill, (4) aktualisasi diri
seseorang dalam dan sepanjang hidupnya, (5) merupakan panggilan hidup bagi diri
seseorang, (6) membawa ketenangan dan kepuasan bagi orang yang menggelutinya.
Sedangkan
yang dikatakan kerja adalah: 1) segala bentuk aktivitas hidup manusia, 2)
berkaitan dengan aktualisasi diri seseorang dalam kehidupan, 3) melalui
pengorbanan jasmani dan olah pikir seseorang, 4) menghasilkan berbagai barang
dan jasa tertentu dan 5) bertujuan untuk memperoleh hasil atau imbalan
tertentu.
Selanjutnya
yang menjadi hakikat yang mendasar pada karir yang sesungguhnya bagi diri
seseorang adalah: aktualisasi diri, pilihan hidup, perjalanan hidup, panggilan
jiwa hidup manusia, dan seni, Karir merupakan bagian dari perjalanan hidup
professional manusia yang mendambakan berbagai kemajuan. Salah satu bentuk
kemajuan yang ingin diraihnya adalah keberhasilan dalam kariernya. Oleh karena
itu pengembangan karier sangat berkaitan dengan pengembangan secara
keseluruhan.
Pengalaman
karir orang-orang selama perjalanan hidup mereka mencerminkan kebutuhan, nilai,
aspirasi, dan sikap mereka yang berubah terhadap pekerjaan. Fitur penting
lainnya dari definisi karir adalah luasnya posisi yang tersirat dalam istilah
'terkait pekerjaan' (wiraswasta termasuk, misalnya, seperti kursus pendidikan
yang terkait dengan pekerjaan); dan kedua, Karir individu muncul dari interaksi
antara agensi individu dan pengalaman di satu sisi, dan kekuatan yang membatasi
dan memungkinkan dari konteks sosial di sisi lain.
B.
Bimbingan dan konseling Karir
Secara
umum Gibson dan Mitchell (1995) menjelaskan beberapa implikasi teori karir
terhadap konseling karir, yaitu pentingnya konselor untuk:
1. Memahami
proses dan karakteristik perkembangan manusia termasuk kesiapannya untuk
belajar dan keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu sesuai dengan
tahapan perkembangannya.
2. Memahami
kebutuhan dasar manusia, termasuk kebutuhan khususnya dan hubungannya dengan
perkembangan karir dan pengambilan keputusan.
3. Dapat
melakukan assesmen dan menginterpretasikan sifat-sifat individual dan
karakteristiknya, serta menerapkannya dalam relasi konseling yang bervariasi.
4. Memahami
dan mampu membantu klien dalam memahami bahwa fator-fator perubahan atau
faktor-faktor yang tak terduga dapat mengubah perencanaan karir.
5. Memahami
perubahan cepat yang terjadi dalam dunia kerja dan kehidupan, sehingga
memerlukan pengujian secara tetap serta perlunya penggunaan teori dan
riset-riset mutahir sebagai dasar pelaksanaan konseling.
Sejalan
dengan peran pembimbing atau konselor di atas, maka dalam konteks bimbingan dan
konseling karir di sekolah, maka program bimbingan dan konseling karir
seyogyanya menekankan pada:
1. Kemampuan
memahami dan menerima diri terhadap kemampuan, bakat, minat, serta kemampuan
dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan dunia kerja. Untuk kepentingan ini
diperlukan pengumpalan data dan keterangan diri melalui layanan inventarisasi
pribadi dengan berbagai teknik dan cara, baik melalui tes maupun nontes.
2. Tersedianya
keragaman dan keluasan informasi karir yang sejalan dengan kemampuan, bakat,
dan minat anak, persyaratan-persyaratan minimal yang harus dipenuhi, tuntutan
aktivitas suatu jabatan, dan nilai-nilai dari jabatan tersebut. Keluasan informasi yang diberikan melalui
layanan informasi karir terutama diperlukan untuk pemahaman terhadap dunia
pekerjaan yang terus berubah dan berkembang secara cepat, sehingga mampu
mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan keadaan diri maupun tuntutan
masyarakat. Infromasi jabatan yang diberikan seharusnya menyangkut informasi
yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif secara utuh, dan agar betul-betul
dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan karir. Untuk itu, informasi
tersebut harus akurat, cermat, baru, luas, dan komprehensif dengan
mempertimbangkan ketersediaannya, bebas prasangka, serta bersumber pada yang
berwenang. Misalnya dari Depnaker dengan Klasifikasi Jabatan Indonesia yang
telah dikeluarkannya atau berdasar Kamus Jabatan Nasional. Pemberian informasi
karir tersebut harus menjadi bagian terpadu dari bimbingan atau konseling yang
dilakukan menuju pengambilan keputusan karir, dan dihindari kesan mengarahkan.
Dengan demikian, siswa atau klien merasa dilibatkan secara penuh, baik pikiran,
perasaan, maupun dalam memberikan makna terhadap pekerjaan yang sengaja
dipilihnya, sehingga dapat lebih bertanggungjawab atas keputusannya.
3. Kemampuan
anak secara dini untuk sedini mungkin merencanakan dan mempersiapkan diri dan
memperjuangkannya secara sungguhsungguh dan konsisten. Setelah anak mengambil
keputusan karir, maka saat itu juga sudah harus mempersiapkan diri secara
matang upaya-upaya untuk mencapainya. Berkaitan dengan ini, maka pembuatan
rencana kehidupan jangka pendek dan jangka panjang sangat diperlukan, terutama
berkaitan dengan bagaimana memperjuangkannya dan melalui jalur mana yang harus
ditempuh, serta persiapan-persiapan diri apa yang harus dikuasai.
4. Kemampuan
untuk merasa aman, puas, dan bahagia dengan pilihan dan keputusan karir yang
telah ditetapkannya. Untuk itu, keputusan pilihan karir harus terus
dimantapkan, dibantu dalam memperjuangkannya, dan terus dievaluasi kemajuannya.
Untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan program bimbingan karir, maka beberapa
program kegiatan yang perlu dilakukan sekolah adalah adalah: (1) Inventarisasi
pribadi, melalui kegiatan assesmen, (2) pemahaman dunia kerja, melalui layanan
informasi karir, (3) orientasi dunia kerja, melalui orientasi ke lapangan, (4)
konseling dan pengambilan keputusan karir, dan (4) penempatan, dan (6) tindak
lanjut. (Munandir, 1996).
Sementara
itu, Gibson dan Mitchell (1995) megajukan beberapa prinsip dalam bimbingan
karir yang berkaitan dengan program pemberikan kesempatan perkembangan karir
menuju tercapainya putusan karir secara tepat, yaitu:
1. Siswa
harus diberi kesempatan untuk mengembangkan suatu yang tidak bias berdasarklan
putusan karirnya.
2. Sejak
awal dan seterusnya, perlu dikembangkan sikap positif terhadap pendidikan.
3. Siswa
harus diajar untuk memandang karir sebagai suatu jalan hidup dan pendidikan
sebagai persiapan untuk hidup.
4. Siswa
harus dibantu untuk menghubungkan antara perkembangan sosial pribadi dengan
perencanaan karir.
5. Semua
tingkatan siswa harus diberi pemahaman tentang hubungan antara pendidikan dan
karir.
6. Siswa
dalam setiap jenjang pendidikannya harus mengalami orientasi karir yang sesuai
dengan tingkat kesiapannya dan realistis.
7. Siswa
diberi kesempatan untuk menguji konsep, keetrampilan, dan peran untuk
mengembangkan nilai yang digunakan untuk menentukan karir masa depannya.
8. Program
bimbigan karir dipusatkan di kelas, melalui koordinasi dan konsultasi dengan
konselor sekolah, orang tua, sumber, dan masyarakat.
9. Program
bimbingan dan konseling karir di sekolah harus diintegrasikan dalam fungsi
bimbingan dan konseling dan program pendidikan secara utuh. Secara teknis,
pelaksanaan bimbingan karir dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari
mengarang, wawancara imajinatif dengan tokoh yang dikagumi, sampai pada
penggunaan komputer.
Berkaitan
dengan pemanfaatan komputer Gibson dan Mitchell (1995) maupun Milgram (1979)
mencatat bahwa penggunaan komputer ternyata memberikan sumbangan yang
signifikan bagi perkembangan karir individu. Sedangkan settingnya dapat
dilakukan secara individual ataupun kelompok, menyesuaiakn dengan kebutuhan.
Secara
khusus Gibson dan Mitchell (1995) menjelaskan bahwa dalam pengembanagn karir,
yang berakhir pada penempatan, maka konselor dapat menggunakan beberapa teknik,
yaitu:
1. Kesadaran
diri (self-awareness) Sejak dini seseorang harus sadar dan menghargai keunikan
dirinya sebagai manusia. Pemahaman tentang bakat, minat, nilai, sifat pribadi,
dsb sangat penting dalam perkembangan konsep yang berhubungan dirinya sendiri
dan eksplorasi karir. Caranya dengan latihan klarifikasi, mengarang, penggunaan
film, tes, dsb.
2. Kesadaran
pendidikan (educational awareness) Kesadaran hubungan antara diri sendiri,
kesempatan pendidikan, dan dunia kerja sangat penting dalam perencanaan karir.
Salah satu caranya dapat dengan menghadirkan alumni.
3. Kesadaran
karir (career awareness) Pada semua tingkatan pendidikan, konselor sekolah
harus mampu membantu siswa untuk terus meluaskan ilmu pengetahuan atau wawasan
dan kesadaran akan dunia kerja. Termasuk pengembangan pemahaman hubungan antara
nilai, gaya hidup, dan karir.
4. Eksplorasi
karir (career exploration) Agar eksplorasi karir dapat berjalan ke arah yang
lebih sistematis, maka diperlukan perencanaan dan analisis karir sesuai dengan
minatnya. Bila dilakukan melalui studi banding, pengetesan realita, dan
sebagainya.
5. Perencanaan
karir dan pembuatan keputusan (career planing and decision making). Pada
akhirnya pilihan karir siswa lebih terfokus, menyempit, atau terspesialisasi,
dan perencanaan karir dimaksudkan untuk menguji secara kritis keputusan yang
diambilnya.
Mengingat
pentingnya bimbingan dan konseling karir sebagai pemberi arah sekaligus
penerang jalan hidup, maka dalam pelaksanaannya, khususnya di persekolahan,
hendaknya lebih diintensifkan dan diefektifkan, sehingga mampu membantu siswa
dalam:
a. pemahaman
secara tepat tentang dirinya,
b. pengenalan
terhadap keragaman dunia kerja dan persyaratannya,
c. mempersiapkan
diri secara matang dalam memasuki dunia kerja,
d. penempatan
bidang-bidang pekerjaan tertentu yang sesuai,
e. memecahkan
berbagai persoalan khusus berkaitan dengan pekerjaan dan pola-pola kehidupan
yang lain, dan
f. penghargaan
yang obyektif dan sehat terhadap pekerjaan, jabatan, serta karir.
Pandangan
ini memiliki implikasi penting untuk bimbingan dan konseling karir: membantu
klien menjadi lebih sadar akan kemampuan, minat dan nilai kerja mereka sendiri
tidak cukup untuk perencanaan karir yang efektif; mereka juga perlu dibantu
untuk 'menguraikan aturan karir di tempat kerja' saat mereka mengeksplorasi
peluang selama hidup mereka (Bailyn, 1989).
C.
Bimbingan dan
Konseling Karir generasi Alpha.
Generasi alpha merupakan generasi yang lahir setelah tahun 2010 sampai saat ini usia paling tua generasi alpha adalah sekitar 8 tahun yakni berada pada level pendidikan sekolah menengah pertama. Generasi ini akan menjadi generasi pembangun bangsa Indonesia 20 tahun ke depan. Maka, kualitas individu dan pendidikan yang diadapatkan akan sangat membantu generasi alpha dalam mencapai kesuksesan karir di masa depan
Dampak dari kehidupan modern terhadap perkembangan generasi Alpha menurut Toledo, Albuquerque dan Magalhães (Triyono 2018) dinamika dunia akan tergantung pada generasi ini. Mereka dapat melintasi batas dengan pengetahuan yang mereka miliki dan kemampuan bahasa inggris yang mumpuni membuat mereka memiliki akses dan kemudahan untuk bepergian ke luar negeri. Generasi ini memiliki keterampilan yang unik yang tidak dimiliki pada generasi sebelumnya. Terdapat banyak tantangan yang akan dihadapi oleh generasi ini, termasuk tantangan sosial, lingkungan dan ekonomi yang menuntut generasi ini untuk memiliki kemampuan problem solving, kreativitas, pembuatan keputusan, berpikir kritis, fleksibilitas, dan managemen diri.
D.
SIMPULAN
Berdasarkan
uraian dan semakin luasnya bidang pekerjaan saat ini, pelaksanaan bimbingan /
konseling karir dituntut mampu merangsang tumbuh dan berkembangnya
pemikiran-pemikiran di bidang pekerjaan yang sifatnya lebih kreatif,
imajinatif, dan holistik, sehingga perkembangan, pola, atau pandangan karirnya
tidak linier, namun lebih menyebar, terdeferensiasi, dan terspesifikasi sesuai
dengan kebutuhan dan tantangan jaman.
Bimbingan
dan konseling karir terus diintensifkan dan diefektifkan, sehingga mampu
membantu siswa dalam:
a. pemahaman
secara tepat tentang dirinya,
b. pengenalan
terhadap keragaman dunia kerja dan persyaratannya,
c. mempersiapkan
diri secara matang dalam memasuki dunia kerja,
d. penempatan
bidang-bidang pekerjaan tertentu yang sesuai,
e. memecahkan
berbagai persoalan khusus berkaitan dengan pekerjaan dan pola-pola kehidupan
yang lain, dan
f. penghargaan
yang obyektif dan sehat terhadap pekerjaan, jabatan, serta karir.
Pandangan
ini memiliki implikasi penting untuk bimbingan dan konseling karir: membantu
klien menjadi lebih sadar akan kemampuan, minat dan nilai kerja mereka sendiri
tidak cukup untuk perencanaan karir yang efektif; mereka juga perlu dibantu
untuk 'menguraikan aturan karir di tempat kerja' saat mereka mengeksplorasi
peluang selama hidup mereka
DAFTAR PUSTAKA
Edwin
B. Flippo. 1996. Manajemen Personalia. Erlangga: Jakarta.
Gibson,
R. L. dan Mitchell, M.H. (1995), Intoduction to Counseling and Guidance,
Englewood Cliffs – New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Hadiarni
& Irman. 2009. Bimbingan Karir. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press.
Hariandja,
Marihat Tua Efendi, 2002, “Manajemen Sumber Daya Manusia”, Grasindo, Jakarta.
Eem
Munawaroh, Kusnarto Kurniawan 2018. Analisis Karakteristik Generasi Alpha Dan
Implikasinya Terhadap Layanan Bimbingan Karir Di Era Disrupsi. ISBN
9786021180389 PROSIDING SEMINAR NASIONAL Strategi Pelayanan Bimbingan dan
Konseling di Era Disrupsi Semarang.
Munandir,
(1996), Program Bimbingan Karier di Sekolah, Jakarta: PPTA – Ditjen Dikti
Depdikbud.
MIlgram,
Roberta M. (1991), Counseling Gifted and Talented Children, – New
Jersey: Ablex Publishing Corporation
Osipow,
Samuel H. (1983), Theories of Career Development, Englewood Cliffs – New
Jersey: Prentice-Hall Inc.
Whiston,
S.C. (2000). Principles and Applications of Assessment in Counseling. United
States: Brooks/Cole. T. Hani Handoko, 2000, Manajemen Personalia & Sumber
Daya Manusia, Yogyakarta: BPFE,
Soegiyoharto,
Rinny (2007), Peran Orang Tua terhadap Karier Anak: Tidak Memaksa Anak ke
Jurusan Pendidikan yang Tidak Disukainya adalah Sikap Bijaksana
(http://www.bpkpenabur.or.id) 15 Januari 2007 23:04:36 GMT: Tersedia
Triyono,
2018 Asesmen Kebutuhan Anak Dan Remaja Generasi Y, Z,. Makalah Seminar Webinar
Nasional
Suherman,
Uman. (2008). Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan, Program Studi
Bimbingan dan Konseling, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.


Komentar
Posting Komentar