SELAMA PANDEMI COVID 19 SISWA SEBAGAI GENERASI Z BISA APA?

 


SELAMA PANDEMI COVID 19 SISWA SEBAGAI  GENERASI Z  BISA APA?

By. Rasman Sastra Wijaya 

Dosen BK FKIP Universitas Muhammadiyah Buton

Apa yang  sesungguhnya siswa  rasakan selama Belajar dari rumah?Apa yang mereka harapkan dari orang dewasa (gurunya, orangtuanya)? dan apa yang anak generasi z bisa lakukan selama Belajar dari rumah? saya coba Tanyakan pada beberapa siswa SMP dan SMA tentang hal tersebut. Awal-awal Belajar dari rumah mereka sangat senang dan antusias..yey libur panjang (ketawa bahagia)…

minggu pertama mereka happy karena tidak harus bangun pagi, tidak harus belajar dari pagi sampai sore di sekolah, ngga harus bertemu dengan guru yang ngga enak cara ngajarnya, bisa main game sepuasnya, anak perempuan bisa melakukan self –care (maskeran, dll), nonton korea dan nonton film action sesukanya. Anak-anak enjoy dirumah.

Lama kelamaan hal tersebut mulai berubah, siswa  mulai bosan dirumah karena terbatas bisa ke mall, belum dapat uang jajan, tidak bisa main bola, ngga bisa hang-out bareng teman-teman, ngga bisa nongkrong di kafe, dst.  Anak generasi Z mulai bosan di rumah, energy mereka yang melimpah tidak bisa diekspresikan dan ini kadang justru menimbulkan masalah..anak ngga mau belajar, malas kerja tugas dari guru, stres karena banyak tugas,  tidak punya motivasi belajar dan bertingkah laku yang misbehave (mengganggu adiknya, melawan orangtua dan bahkan cenderung agresif).

Generasi Pendahulu Patut Mendukung Tumbuh Kembang Generasi Z

Generasi Z yang cerdas dan sedang menempuh pendidikan membutuhkan banyak dukungan dari para generasi pendahulunya. Saat ini, generasi baby boomer, generasi X, dan generasi Y menempati posisi sebagai kakek atau nenek, orang tua, guru, atau tutor bagi generasi Z. Perbedaan karakteristik antargenerasi tentu menjadi salah satu hambatan terbesar untuk menjalin komunikasi efektif. Tentunya pemahaman terhadap gaya belajar generasi Z menjadi sangat penting.

Jika dibandingkan dengan generasi Z, tentu saja baby boomer dan generasi X tertinggal jauh untuk urusan teknologi. Kendati demikian, hal ini tidak lantas menjadi batu sandungan untuk mendekatkan diri dengan generasi Z. Bermodalkan rasa ingin tahu dan semangat belajar yang besar, baby boomer dan generasi X pasti mampu menjadi pendidik dan teladan yang baik bagi generasi Z. Murid-murid generasi Z tidak akan merasa bosan bila dibimbing oleh generasi baby boomer dan generasi X yang terbuka terhadap perkembangan zaman.

Berbeda dengan baby boomer dan generasi X, generasi Y jelas memiliki pemahaman teknologi yang lebih baik. Lahir pada peralihan zaman konservatif ke zaman modern membuat generasi Y bisa memposisikan diri sebagai “jembatan penghubung” bagi dua generasi pendahulunya dan generasi Z. Para peneliti mengemukakan fakta bahwa generasi Y memiliki kemampuan multi-tasking dengan 3 media berbeda. Hal ini tentu menjadi salah satu hal yang mendasari kemiripan generasi Y dengan generasi Z, walaupun multi-tasking generasi Z masih lebih unggul.

Generasi Y mesti membatasi perilaku individualisme supaya bisa menyelami sang generasi Z. Bukan mustahil kalau kolaborasi generasi Y dan generasi Z akan menghasilkan hal-hal besar di masa mendatang.

Serunya pengalaman belajar bersama generasi Z di sekolah

Generasi Z yang tergabung sebagai suatu kesatuan dalam tingkatan kelas akademik tertentu sangat menarik untuk diamati. Sebagai individu dengan latar belakang berbeda, mereka memiliki sikap dan kebiasaan yang beragam. Namun sebagai generasi Z, sikap dasar mereka tetap sama. Mereka suka belajar melalui media berkonsep audio visual. Di samping itu, contoh-contoh konkret yang disampaikan oleh guru atau tutor pun menjadi bahan pembelajaran yang efektif bagi generasi Z. Mereka suka melakukan eksplorasi terhadap hal baru dan menanyakan hal-hal menakjubkan yang barangkali berada diluar dugaan guru atau tutor.

Generasi Y bersama generasi Z. Sumber: Dokumentasi Pribadi (Melisa).

Generasi Z dikenal memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta mudah akrab dengan orang yang baru dikenal. Tentu saja generasi ini mudah akrab dengan orang yang baru dikenal dengan alasan tertentu. Bagi generasi Z, kenyamanan dan komunikasi yang interaktif merupakan hal esensial dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Generasi yang lahir setelah era milenium ini tidak suka digurui oleh siapa pun. Mereka sungguh berbeda dengan generasi Y beberapa tahun lalu, yang masih bisa terima kalau guru bertindak sebagai orang yang “terlalu menggurui”.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau generasi-generasi pendahulu menempatkan diri sebagai sahabat bagi generasi Z. Saran dan kritik yang disampaikan dengan gaya kekinian jauh lebih mudah diterima generasi Z ketimbang wejangan yang sok bijak. Murid-murid generasi Z juga gemar curhat mengenai banyak hal. Kalau sudah merasa nyaman dengan orang-orang yang mereka percayai, peluang untuk bercerita mengenai kesulitan belajar pun akan semakin besar.

Tak harus terus-terusan bertatap muka dengan generasi Z untuk bisa menjalin kedekatan. Generasi Z tak segan-segan untuk terhubung dengan orang yang dikenalnya melalui media sosial. Fenomena ini bisa dimanfaatkan oleh para generasi pendahulu untuk memantau aktivitas generasi Z di luar kegiatan sekolah. Sesekali tak masalah menyapa mereka untuk mengingatkan tentang kewajiban belajar atau mengobrol santai sembari membahas aneka pelajaran di sekolah.

Setiap generasi yang lahir pada periode tertentu memiliki keunikannya masing-masing. Tidak ada generasi yang lebih buruk atau lebih baik. Karena sesungguhnya semua generasi memiliki pengalaman, kebiasaan, dan pola pikir yang unik. Sekarang giliran generasi Z yang belajar menapaki dunia dan mengenal banyak hal baru. Tidak cuma generasi Z yang wajib giat belajar, generasi-generasi pendahulunya pun mesti memberikan bimbingan dengan cara yang efektif. Niscaya hubungan harmonis antar generasi akan menghasilkan banyak manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bidang kehidupan lainnya.

Karena satu-satunya cara agar kita terhindar dari penularan Covid-19 adalah dengan disiplin melaksanakan protokol kesehatan, New Normal tidak sama dengan keberlangsungan hidup normal seperti biasanya. Diamana pada new normal ini masyarakat hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19. .

Generasi yang akan segera mendominasi populasi dunia, yaitu generasi Z. Mungkin Kamu yang membaca artikel ini juga termasuk ke dalam generasi ini. Generasi Z merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang lahir pada tahun 2000 ke atas. Dalam hal belajar, generasi Z tentu memiliki gaya belajar yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Berikut ini adalah beberapa gaya belajar generasi Z.

Menyukai metode belajar learning by doing.

Generasi Z lebih menyukai metode belajar learning by doing. Bereksperimen atau melakukan praktik lebih disukai dibanding duduk di kelas saja. Oleh karena itu, guru-guru harus semakin kreatif dalam mengajar.

Membutuhkan tujuan yang jelas di awal pelajaran dan feedback yang cepat.

Sebelum belajar, generasi Z harus mengetahui apa saja topik yang akan ia pelajari dan hasil seperti apa yang diharapkan dari aktivitas belajar tersebut.

Membutuhkan tutor yang memposisikan diri sebagai sahabat.

Generasi Z lebih suka dan mampu belajar dengan baik apabila guru dapat memposisikan diri sebagai sahabat mereka, mengajar dengan pendekatan personal, tidak terlalu menggurui dan tidak bersikap terlalu galak sehingga memberi kesan menakutkan.

Fokus pada pembelajaran audio

Bagi generasi Z, bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk kemampuan audio visual jauh lebih berkembang sehingga perlu membuat audio dan bentuk-bentuk visual pembelajaran yang lebih menarik dan efektif serta menyenangkan.

Belajar melalui gadget.

Perangkat teknologi seperti smartphone merupakan alat yang sering dipakai generasi Z dalam mendukung dalam proses belajar. Durasi akses rata-rata bisa mencapai 15,4 jam per minggu. Melalui smartphone, mereka tidak terpaku dengan buku teks saja sehingga mereka dapat mencari informasi lebih luas yang dapat meningkatkan proses belajarnya.

Belajar sebagai permainan.

Perlakuan belajar sebagai permainan akan lebih menyenangkan dan efektif. Permainan ini akan memotivasi diri mereka untuk terus mendorong ke arah penguasaan yang lebih besar dari materi pelajaran.

Lebih berpikir kritis.

Generasi Z lebih cenderung fokus pada berpikir kritis untuk dapat memecahkan suatu masalah daripada menghafal informasi. Oleh karena itu, dalam proses belajar mereka lebih suka dan lebih mudah mengerti terhadap penerapan konsep yang konkret dibandingkan disuruh untuk menghafal rumus-rumus.

Multitasking.

Generasi Z termasuk generasi yang multitasking, yaitu mereka bisa mengerjakan beragam tugas dalam satu waktu. Jangan heran jika seseorang dari generasi Z bisa mempelajari banyak hal sekaligus. Mereka mampu menggunakan lima media berbeda secara bersamaan dalam satu waktu. Dengan hal ini mereka cenderung memiliki tingkat kreativitas yang tinggi.

Guru BK bisa apa untuk membantu anak generasi z selama Belajar dari rumah? Guru BK perlu memahami terlebih dahulu karakteristik anak generasi Z. 

1.  Siswa Generasi Z sangat akrab dengan penggunaan teknologi. Hal ini dipahami bahwa selama Belajar dari rumah tidak menjadi persoalan jika pembelajaran dilakukan secara daring karena mereka sangat akrab semenjak kecil dengan teknologi. Persoalan selanjutnya adalah apakah fasilitasnya memadai atau tidak dirumah?

2.  Siswa Generasi Z kreatif dan inovatif.  Oleh karena itu saya melihatnya bahwa yang membuat stres belajar adalah bukan karena tugas yang diberikan guru,  tapi jenis tugas bagaimana yang diberikan oleh guru,  apakah tugas tersebut menyenangkan bagi siswa? Apakah tugas tersebut menantang siswa? atau tugas tersebut malah mebosankan bagi anak dan tidak menantang untuk dikerjakan.

3. Anak generasi Z sangat produktif, jadi bantu mereka membuat aktivitas selama Belajar dari rumah yang membuat energi  mereka yang melimpah bisa  tersalurkan. Misalnya dengan membantu mereka untuk melakukan dan belajar  hal-hal baru. Menulis lagu, menciptakan lagu, menulis novel, menggambar, mendesain, memasak, membuat vlog,  atau apapun itu selama itu hal positif bisa dilakukan.  

4. Anak generasi Z juga sangat kritis, orang dewasa kadang menanggapinya bahwa mereka kurang ajar dan melawan ortu. Dalam hal ini guru BK jangan ikut-ikutan menyalahkan anak, bantu mereka. Guru BK hendaknya mengarahkan siswa agar dapat melatih komunikasi anak agar menyampaikan pikiran dan pendapatnya dengan cara yang baik dan asertif sehingga dapat dipahami oleh orang dewasa (guru dan orangtua).

5. Anak generasi Z  bisa memecahkan masalah yang kompleks. Oleh  karena itu para guru BK jangan putus asa karena merasa tidak dapat membantu masalah siswanya. Anak generasi Z memiliki potensi untuk dapat mengatasi masalahnya secara mandiri. Hal ini sejalan dengan pendekatan konseling singkat berfokus solusi (KSBS). KSBS merupakan pendekatan yang berbasis pada potensi dan kekuatan konseli yang berfokus pada solusi dan masa depan. Kenapa disebut singkat? singkat karena pada tahap identifikasi masalah eksplorasinya menjadi lebih pendek dan mengabaikan deskripsi masalah secara lengkap dibanding pendekatan konseling lainnya. Pendekatan ini  berasumsi optimis bahwa setiap anak  memiliki kemampuan untuk membangun solusi yang dapat meningkatkan kehidupan mereka. Intinya pendekatan ini  membangun harapan dan optimisme konseli dengan menciptakan ekspektasi positif bahwa perubahan itu bisa terjadi karena setiap anak memiliki kompetensi mengatasi masalahnya selama Belajar dari rumah secara mandiri.

Oleh karena itu Guru BK bisa memberikan  tips berikut  untuk anak geneasi Z  selama Belajar dari rumah:

1.     Kecemasan terkena covid 19 adalah normal terjadi, oleh karena itu tetaplah  berpikir positif. Biasakan pola hidup sehat dan menjaga imunitas tubuh dengan melakukan  hal-hal yang membuat siswa happy.

2.     Membatasi siwa mengkonsumsi informasi tentang KOVID 19 hanya dari sumber yang terpercaya

3.     Bantu siswa membuat  jadwal rutinitas harian (belajar, olahraga  dan hiburan)

4.     Arahkan siswa agar fokus  diri mereka, misalnya ajak mereka  belajar hal-hal baru dan mengembangkan  hobinya

5.     Sampaikan pada mereka agara tetap melakukan komunikasi dengan keluarga dan teman melalui email, panggilan telfon dan memanfaatkan platform media sosial.

6.     Setiap anak punya caranya sendiri untuk mengekspresikan emosi. Ajak mereka  terlibat dalam kegiatan kreatif, seperti bermain dan menggambar, menulis,  bisa memudahkan proses ini.

7.     Bantu anak menemukan hal yang positif cara untuk mengekspresikan perasaan yang mengganggu seperti kemarahan, ketakutan, dan kesedihan.

8.     Jangan lupa tetap ingatkan mereka untuk beribadah dan berdoa .

9.     Jadilah Kreatif selama masa WHF dan lakukan hal-hal menyenangkan bersama keluarga

10.  Jangan lupa sampaikan pada mereka agar minta tolong  dan berkomunikasi pada orang dewasa jika siswa  mengalami hal-hal  yang kurang nyaman selama Belajar dari rumah.

11.  Anak muda bisa menjadi thriver selama Belajar dari rumah dengan  memberdayakan potensinya dan memilih tetap produktif ketimbang terjebak dalam pemikiran irasional selama pandemi ini. Anak muda bisa kita arahkan untuk mengerakan untuk berbuat sesuatu dan mau berbagi dengan sesama tanpa harus keluar rumah.

Tetap berdoa, tetap berikhtiar…where there’s life there’s hope. Insya Allah kita semua akan kuat melewati bencana ini ..amin. 

 Disesi lain saya akan dibahas teknik-teknik dari pendekatan KSBS untuk membantu siswa yang mengalami masalah selama Belajar dari rumah dengan detail

Dari perpektif keilmuan bimbingan konseling ada beberapa usaha yang bisa dilakukan, antara lain sebagai berikut:

1. Bantu anak memahami dan menerima keadaan yang terjadi. Tumbuhkan sikap reseptif dan ikhlas menerima keadaan. Sikap terbuka menerima keadaan akan menjadi pintu dan kunci penting untuk membuka jiwa dan pikiran belajar beradaptasi dengan keadaan. Gunakan penjelasan deskriptif (menjelaskan apa adanya, sesuai data dan fakta), bukan preskriptif (menggurui, mengharuskan, memaksakan)

2. Bantu anak untuk membangun keyakinan diri dan optimisme. Tidak membiarkan diri mereka terus terbelenggu dalam pikiran negatif, kecemasan, dan ketakberdayaan. Catatan yang pernah saya tulis di wall fb yang dapat digunakan di sini, antara lain teknik self-talk (31/03/2020) 2019), change the channel (17/04/2020), dan reality-resting (20/04/2020)

3. Untuk mengatasi gejala gangguan aktibat rasa bosan dan stres siswa (seperti rasa capek, susah tidur, sakit kepala, tegang, dsb), bantu siswa melakukan relaksasi mandiri. Bisa dengan relaksasi pernafasan atau relaksasi otot (lihat catatan saya di fb 1 dan 2 April 2020).

4. Lakukan pengaturan terhadap tata-ruang dan perlatan dalam BDR menjadi tempat yang menarik dan menstimulasi rasa nyaman. Variasi tata ruang dan perlengkapan bisa menghilangkan rasa jenuh dan bosan.

5. Gunakan aktivitas menyenangkan, seperti main game, main medsos, nonton televisi, dsb), sebagai bentuk hadiah-diri (self-rei nforcement). Buat kontrak diri dan biasakan untuk hanya akan menekuni kegiatan menyenangkan setelah tugas utama dalam BDR dan WFH diselesaikan. Urutan kegiatannya menjadi: selesaikan KEGIATAN UTAMA baru kemudian menikmati KEGIATAN MENYENANGKAN. Dahulukan mengalami kondisi "al-usra" (kesulitan), sebelum mendapatkan keadaan 'al-yusra" (kemudahan). Ini akan memotivasi diri untuk selalu berusaha menyegerakan penyelesaian tugas utama.

6. Gunakan musik dalam bekerja dan belajar. Saat kita bekerja dan belajar bisanya hanya otak kiri yang aktif mengolah informasi di otak. Otak kanan yang intuitif dan kreatif akan mencari objek sendiri untuk dipikirkan. Maka kerja otak menjadi bercabang, membuat kita melamun, atau tak lagi konsentrasi pada pekerjaan/pelajaran. Lantunan musik (disarankan musik instrumentalia, tanpa lagu) akan mengkatifkan otak kanan untuk terlibat sekaligus mengatur ritme gelombang otak mengikuti irama musik. Dengan demikian, kita bisa nyaman dan tahan melakukan aktifitas kerja/belajar.

7. Beri support kepada anak. Social-support dari the-significant-others (keluarga, pasangan, teman) sangat diperlukan untuk memberi rasa aman dan rasa terlindungi. Dalam berkomunikasi dan memberi arahan, lebih banyak menggunakan kata-kata positif (mendukung, menghagai, memuji, dan semacamnya) dan kurangi atau stop saja menggunakan kata-kata negatif (mencela, menyalahkan, memarahi, membandingkan, dan semacamnya).

Komentar